HURUF DAN FONEM
1. HURUF
Dalam bidang linguistik, huruf sering diistilahkan
grafem. Dalam suatu huruf terkandung suatu fonem, dan fonem tersebut
membentuk suatu bunyi
dari bahasa yang dituturkannya. Setiap aksara memiliki
huruf dengan nilai bunyi yang berbeda-beda. Dalam aksara jenis alfabet,
abjad,
dan abugida,
biasanya suatu huruf melambangkan suatu fonem atau bunyi. Berbeda dengan
logogram atau ideogram, yang hurufnya mewakili ungkapan atau makna suatu
lambang, misalnya aksara Tionghoa. Dalam aksara jenis silabis
atau aksara suku kata. suatu huruf juga melambangkan
suatu suku kata, contohnya adalah Hiragana
dan Katakana
yang digunakan di Jepang.
2.
FONEM
Pengertian
fonem
}
Setiap bunyi ujaran
dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti.
}
Bunyi ujaran yang
membedakan arti ini yang disebut fonem.
}
Fonem tidak dapat
berdiri sendiri karena belum mengandung arti
}
Satuan bunyi terkecil
yang mampu menunjukkan kontras makna
Contoh :
mari sari dari tari
lari cari hari
Fonem adalah satuan bunyi bahasa
terkecil yang dapat membedakan arti. Ilmu yang mempelajari tentang fonem
disebut fonemik. Fonemik merupakan bagian dari fonologi. Fonologi ini khusus
mempelajari bunyi bahasa. Untuk mengetahui suatu fonem harus diperlukan
pasangan minimal.
Contoh:
harus – arus è /h/ adalah fonem karena membedakan
arti kata harus dan arus
Fonem dalam bahasa Indonesia terdiri
atas vokal dan konsonan. Vokal adalah bunyi ujaran yang tidak mendapatkan
rintangan saat dikeluarkan dari paru-paru. Vokal dibagi menjadi dua, yaitu
vokal tunggal (monoftong) yang meliputi a, i, u, e, o dan vokal rangkap
(diftong), yang meliputi ai, au, oi.
Konsonan adalah bunyi ujaran yang
dihasilkan dari paru-paru dan mengalami rintangan saat keluarnya. Contoh
konsonan antara lain p, b, m, w, f, v, t, d, n, c, j, k, g, h. Konsonan rangkap
disebut kluster. Contoh kluster pada kata drama, tradisi, film, modern.
Perubahan fonem bahasa Indonesia bisa
terjadi karena pengucapan bunyi ujaran memiliki pengaruh timbal balik antara
fonem yang satu dengan yang lain.
Macam perubahan fonem antara
lain :
1.
Alofon adalah variasi
fonem karena pengaruh lingkungan suku kata. Contoh : simpul-simpulan. Fonem /u/
pada kata [simpul] berada pada lingkungan suku tertutup dan fonem /u/ pada kata
[simpulan] berada pada lingkungan suku terbuka. Jadi, fonem /u/ mempunyai dua
alofon, yaitu [u] dan (u).
2.
Asimilasi adalah
proses perubahan bunyi dari tidak sama menjadi sama atau hampir sama. Contoh:
in + moral è immoral è
imoral.
3.
Desimilasi adalah
proses perubahan bunyi yang sama menjadi tidak sama. Contoh : sajjana menjadi
sarjana.
4.
Diftongisasi adalah
perubahan monoftong menjadi diftong. Contoh: anggota menjadi anggauta.
5.
Monoftongisasi
adalah proses perubahan diftong
menjadi monoftong. Contoh: ramai, menjadi rame.
6.
Nasalisasi adalah
persengauan atau proses memasukkan huruf nasal (n, m, ng, ny) pada suatu fonem.
Contoh : me/m/ pukul menjadi memukul.
Membedakan dan Melafalkan Fonem Bahasa
Indonesia
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas
vokal, konsonan, dan semi- vokal. Perbedaan antara vokal dan konsonan
didasarkan pada ada atau tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat
bicara. Agar lebih jelas, Anda dapat melihat tabel berikut.
|
Vokal
|
Konsonan
|
|
Ø
Bunyi yang tidak
disertai hambatan pada alat bicara.
Hambatan hanya terdapat pada pita suara.
Ø
Tidak terdapat artikulasi
Ø
Semua vocal dihasilkan dengan
bergetarnya pita suara.
Dengan demikian, semua vokal
adalah bunyi
suara.
|
Ø
Bunyi yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada
sebagian alat bicara.
Ø
Terdapat artikulasi.
Ø
Konsonan bersuara adalah
konsonan yang dihasilkan
dengan
bergetarnya pita suara.
Konsonan tidak bersuara
adalah konsonan yang dihasilkan tanpa bergetarnya
pita suara.
|
a.
Vokal
Bunyi
vokal dibedakan berdasarkan
posisi tinggi rendahnya lidah, bagian lidah
yang bergerak, struktur, dan bentuk bibir. Dengan demikian, bunyi
vokal tidak dibedakan
berdasarkan posisi artikulatornya karena
pada bunyi vokal tidak terdapat artikulasi. Artikulator adalah bagian alat ucap
yang dapat bergerak.
Klasifikasi vokal sebagai berikut :
Ä
Berdasarkan gerakan lidah ke depan dan belakang, vokal dibedakan:
1. Vokal depan : /i/ dan /e/
2. Vokal tengah : /a/ dan /ə/
3. Vokal belakang : /o/ dan /u/
Ä Berdasarkan tingggi rendahnya
gerakan lidah, vokal dibedakan:
1. Vokal tinggi : /i/
dan /u/
2. Vokal madya : /e/,
/ə/, dan /o/
3. Vokal rendah : /a/
Ä Menurut bundar tidaknya bentuk bibir, vokal dibedakan atas:
1. Vokal bundar : /a/,
/o/, /u/
2. Vokal tak bundar : /e/, /ə/, dan /i/
Ä Menurut renggang tidaknya ruang antara lidah dengan langit-langit vokal
dibedakan:
1. Vokal sempit : /ə/, /i/, dan /u/
2. Vokal lapang : /a/,
/e/, /o/
b.
Konsonan
Konsonan
dapat dibedakan menurut:
a. Cara hambat (cara
artikulasi) atau cara pengucapannya;
Klasifikasi
konsonan berdasarkan cara pengucapan atau cara artikulasi seperti uraian
berikut :
·
Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan
hambat letup ialah konsonan
yang terjadi dengan hambatan
penuh arus udara. Kemudian,
hambatan itu dilepaskan secara tiba-tiba. Berdasarkan
tempat artikulasi, konsonan hambat letup dibedakan seperti berikut.
1) Konsonan hambat
letup bilabial. Konsonan ini
terjadi jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator
pasifnya bibir atas. Bunyi yang dihasilkan [ p, b ].
2) Konsonan hambat letup apiko-dental.
Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator
pasifnya gigi atas. Bunyi yang dihasilkan [ t, d ].
3) Konsonan hambat letup apiko-palatal.
Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator
pasifnya langit- langit keras (langit-langit atas). Bunyi yang dihasilkan [ t ,
d ]. [ t ] . . . ditulis th sedangkan [ d ]
ditulis dh. .
4) Konsonan hambat letup medio-palatal.
Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator
pasifnya langit- langit keras. Bunyi yang dihasilkan [c, j ].
5) Konsonan hambat
letup dorso-velar. Konsonan ini
terjadi jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator
pasifnya langit- langit lunak
(langit-langit bawah). Bunyi
yang dihasilkan [ k, g ].
6) Konsonan hamzah. Konsonan ini terjadi
dengan menekan rapat yang satu terhadap yang lain pada seluruh pita suara,
langit-langit lunak beserta anak tekak di tekan ke atas sehingga arus udara
terhambat beberapa saat. Bunyi yang dihasilkan [ ? ].
·
Konsonan Nasal (Sengau)
Konsonan
nasal (sengau) ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat rapat (menutup)
jalan udara dari paru-paru melalui rongga hidung. Bersama dengan itu
langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan sehingga udara keluar
melalui rongga hidung. Berdasarkan tempat artikulasinya, konsonan nasal
dibedakan sebagai berikut.
1) Konsonan nasal
bilabial. Konsonan ini terjadi
jika artikulator aktifnya bibir
bawah dan artikulator pasifnya
bibir atas. Nasal yang dihasilkan [m ].
2) Konsonan nasal medio-palatal. Konsonan
ini terjadi jika artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya
langit-langit keras. Nasal yang dihasilkan ialah [ ñ ].
3) Konsonan nasal apiko-alveolar. Konsonan
ini terjadi jika artikulator aktifnya ujung
lidah dan artikulator pasifnya
gusi. Nasal yang dihasilkan ialah [ n ].
4) Konsonan nasal dorso-velar. Konsonan
ini terjadi jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya
langit-langit lunak. Nasal yang diberikan [ h ].
·
Konsonan Paduan
Konsonan
paduan adalah konsonan hambat jenis khusus. Tempat artikulasinya ialah ujung
lidah dan gusi belakang. Bunyi yang dihasilkan [ts , d5]. Bunyi [ ts ] ditulis
ch sedangkan bunyi [d5] ditulis dg.
·
Konsonan Sampingan
Konsonan
sampingan dibentuk dengan menutup arus udara di tengah rongga mulut sehingga
udara keluar melalui kedua samping atau sebuah samping saja. Tempat
artikulasinya ujung lidah dengan gusi. Bunyi yang dihasilkan [ I ].
·
Konsonan Geseran atau Frikatif
Konsonan
geseran atau frikatif adalah konsonan yang dibentuk dengan menyempitkan jalan
arus udara yang diembuskan dari paru-paru, sehingga
jalan udara terhalang dan
keluar dengan bergeser. Menurut artikulasinya, konsonan
geseran dibedakan sebagai berikut.
1)
Konsonan geseran labio-dental. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya
bibir bawah dan artikulator pasifnya gigi atas. Bunyi yang dihasilkan [ f , v
].
2)
Konsonan geseran lamino-alveolar.
Konsonan ini terjadi jika artikulator
aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung lidah sedangkan
artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan [ s , z ].
3)
Konsonan geseran dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya
pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang
dihasilkan [ x ].
4)
Konsonan geseran laringal. Konsonan ini terjadi jika artikulatornya sepasang
pita suara dan glotis dalam keadaan terbuka. Bunyi yang dihasilkan [ h ].
·
Konsonan Getar
Konsonan
getar ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat jalan arus udara yang
diembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat. Menurut tempat
artikulasinya konsonan getar dinamai konsonan getar apiko-alveolar. Konsonan
ini terjadi jika artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah
ujung lidah dan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan [ r ].
·
Semivokal
Bunyi
semivokal termasuk konsonan.
Hubungan antarpeng- hambat dalam mengucapkan semivokal adalah
renggang terbentang atau renggang lebar.
Berdasarkan hambatannya, ada
dua jenis semivokal sebagai berikut.
1)
Semivokal bilabial, semivokal ini terjadi jika artikulator aktifnya bibir bawah
dan artikulator pasif adalah bibir atas. Bunyi yang dihasilkan adalah bunyi [ w
].
2)
Semivokal medio-palatal, semivokal
ini terjadi jika artikulator aktifnya
tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang
dihasilkan [ y].
b.
Tempat hambat (tempat artikulasi);
c. Hubungan
posisional antara penghambat-penghambat atau hubungan antara artikulator pasif;
dan bergetar tidaknya pita suara.
Cara mengucapkan atau melafalkan bunyi
dalam bahasa Indonesia dapat dituliskan dengan lambang fonetis.
Contoh
|
Huruf
|
Pelafalan
|
Contoh
Kata
|
Lambang
Fonetis
|
|
a
|
a
|
air
|
[a
i r]
|
|
au
|
aw
|
kalau
|
[k
a l aw]
|
|
ai
|
ay
|
intai
|
[i
n t a y]
|
|
b
|
b
|
bukan
|
[b
u k a n]
|
|
c
|
c
|
cara
|
[c
a r a ]
|
|
d
|
d
|
damai
|
[d
a m ai]
|
|
e
|
e
|
enak
|
[e
n a ?]
|
|
e
|
ε
|
nenek
|
[n
ε n ε?]
|
|
e
|
e
|
gedung
|
[g
e d u h]
|
|
f
|
f
|
formal
|
[f
o r m a l]
|
|
g
|
g
|
gundul
|
[g
u n d u l]
|
|
h
|
h
|
harap
|
[h
a r a p]
|
|
i
|
i
|
indah
|
[i
n d a h]
|
|
i
|
I
|
kering
|
[k
e r I ŋ]
|
|
j
|
j
|
Jumlah
|
[j
u m l a h]
|
|
k
|
k
|
Kasih
|
[k
a s i h]
|
|
k
|
?
|
Rakyat
|
[r
a? y a t]
|
|
l
|
l
|
lama
|
[l
a m a]
|
|
m
|
m
|
mandi
|
[m
a n d i]
|
|
n
|
n
|
nanas
|
[n
a n a s]
|
|
ny
|
ñ
|
nyanyi
|
[ñ
a ñ i ]
|
|
ng
|
ŋ
|
barang
|
[b
a r a ŋ]
|
|
o
|
o
|
obat
|
[o
b a t]
|
|
o
|
O
|
tolong
|
[t
c l c h]
|
|
oi
|
oy
|
amboi
|
[a
m b o y]
|
|
p
|
p
|
pilih
|
[p
i l i h]
|
|
r
|
r
|
rantai
|
[i
n t a y]
|
|
b
|
b
|
bukan
|
[b
u k a n]
|
|
c
|
c
|
cara
|
[c
a r a ]
|
|
d
|
d
|
damai
|
[d
a m ai]
|
|
e
|
e
|
enak
|
[e
n a ?]
|
|
e
|
ε
|
nenek
|
[n
ε n ε?]
|
|
e
|
e
|
gedung
|
[g
e d u h]
|
|
f
|
f
|
formal
|
[f
o r m a l]
|
|
g
|
g
|
gundul
|
[g
u n d u l]
|
|
h
|
h
|
harap
|
[h
a r a p]
|
|
i
|
i
|
indah
|
[i
n d a h]
|
|
i
|
I
|
kering
|
[k
e r I ŋ]
|
|
j
|
j
|
Jumlah
|
[j
u m l a h]
|
|
k
|
k
|
Kasih
|
[k
a s i h]
|
|
k
|
?
|
Rakyat
|
[r
a? y a t]
|
|
l
|
l
|
lama
|
[l
a m a]
|
|
m
|
m
|
mandi
|
[m
a n d i]
|
|
n
|
n
|
nanas
|
[n
a n a s]
|
|
ny
|
ñ
|
nyanyi
|
[ñ
a ñ i ]
|
|
ng
|
ŋ
|
barang
|
[b
a r a ŋ]
|
|
o
|
o
|
obat
|
[o
b a t]
|
|
o
|
O
|
tolong
|
[t
c l c h]
|
|
oi
|
oy
|
amboi
|
[a
m b o y]
|
|
p
|
p
|
pilih
|
[p
i l i h]
|
|
r
|
r
|
rantai
|
[r
a n t ai]
|
|
s
|
s
|
suara
|
[s
u a r a]
|
|
sy
|
š
|
syukur
|
[š
u k u r]
|
|
t
|
t
|
taruh
|
[t
a r u h]
|
|
u
|
u
|
ulir
|
[u
l I r]
|
|
u
|
U
|
taruh
|
[t
a r U h]
|
|
v
|
v
|
visa
|
[v
i s a]
|
|
w
|
w
|
wanita
|
[w
a n i t a]
|
|
kh
|
x
|
ikhwal
|
[i
x w a l]
|
|
y
|
y
|
karya
|
[k
a r y a]
|
|
z
|
z
|
ijazah
|
[i
j a z a h]
|
3.
PERBEDAAN FONEM DAN GRAFEM (HURUF)
Grafem
berbicara tentang huruf, sedangkan fonem berbicara tentang bunyi. Seringkali
represenasi tertulis kedua konsep ini sama. Misalnya untuk menyatakan benda
yang dipakai untuk duduk yang bernama "kursi",
kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>, <u>,
<r>, <s>, dan <i>, dan mengucapkannya pun /kursi/ - dari segi
grafem ada alima satuan, dan dari segi fonem juga ada lima satuan. Akan tetapi,
hubungan satu-lawan-satu seperti itu tidak selalu kita temukan. Kata "ladang"
mempunyai enam grafem, yakni <l>, <a>, <d>, <a>,
<n>, dan <g>. Dari segi bunyinya perkaatan yang sama itu hanya
mempunyai lima fonem, yakni /l/, /a/, /d/, /a/, dan /ŋ/ karena grafem <n>
dan <g> hanya mewakili satu fonem /ŋ/ saja.
Contoh perbedaan huruf (grafem) dan fonem:
|
Susunan Fonem
|
Jumlah Fonem
|
Susunan huruf
|
Jumlah huruf
|
Kata yang terbentuk
|
|
/adik/
|
4
|
adik
|
4
|
adik
|
|
/iŋat/
|
4
|
ingat
|
5
|
ingat
|
|
/ήaήi/
|
4
|
nyanyi
|
6
|
nyanyi
|
|
/pantay/
|
5
|
pantai
|
6
|
pantai
|