Sabtu, 03 November 2012


HURUF DAN FONEM

1.      HURUF

Dalam bidang linguistik, huruf sering diistilahkan grafem. Dalam suatu huruf terkandung suatu fonem, dan fonem tersebut membentuk suatu bunyi dari bahasa yang dituturkannya. Setiap aksara memiliki huruf dengan nilai bunyi yang berbeda-beda. Dalam aksara jenis alfabet, abjad, dan abugida, biasanya suatu huruf melambangkan suatu fonem atau bunyi. Berbeda dengan logogram atau ideogram, yang hurufnya mewakili ungkapan atau makna suatu lambang, misalnya aksara Tionghoa. Dalam aksara jenis silabis atau aksara suku kata. suatu huruf juga melambangkan suatu suku kata, contohnya adalah Hiragana dan Katakana yang digunakan di Jepang.

2.     FONEM

Pengertian fonem

}   Setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti.
}   Bunyi ujaran yang membedakan arti ini yang disebut fonem.
}   Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti
}   Satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna
Contoh :
mari                 sari             dari             tari
lari                  cari             hari

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti. Ilmu yang mempelajari tentang fonem disebut fonemik. Fonemik merupakan bagian dari fonologi. Fonologi ini khusus mempelajari bunyi bahasa. Untuk mengetahui suatu fonem harus diperlukan pasangan minimal.
Contoh:
harus – arus è /h/ adalah fonem karena membedakan arti kata harus dan arus

Fonem dalam bahasa Indonesia terdiri atas vokal dan konsonan. Vokal adalah bunyi ujaran yang tidak mendapatkan rintangan saat dikeluarkan dari paru-paru. Vokal dibagi menjadi dua, yaitu vokal tunggal  (monoftong) yang meliputi a, i, u, e, o dan vokal rangkap (diftong), yang meliputi ai, au, oi.
Konsonan adalah bunyi ujaran yang dihasilkan dari paru-paru dan mengalami rintangan saat keluarnya. Contoh konsonan antara lain p, b, m, w, f, v, t, d, n, c, j, k, g, h. Konsonan rangkap disebut kluster. Contoh kluster pada kata drama, tradisi, film, modern.
Perubahan fonem bahasa Indonesia bisa terjadi karena pengucapan bunyi ujaran memiliki pengaruh timbal balik antara fonem yang satu dengan   yang   lain.   Macam   perubahan   fonem   antara   lain   :
1.      Alofon adalah variasi fonem karena pengaruh lingkungan suku kata. Contoh : simpul-simpulan. Fonem /u/ pada kata [simpul] berada pada lingkungan suku tertutup dan fonem /u/ pada kata [simpulan] berada pada lingkungan suku terbuka. Jadi, fonem /u/ mempunyai dua alofon, yaitu [u] dan (u).
2.     Asimilasi adalah proses perubahan bunyi dari tidak sama menjadi sama atau hampir sama. Contoh: in + moral è  immoral è imoral.
3.     Desimilasi adalah proses perubahan bunyi yang sama menjadi tidak sama. Contoh : sajjana menjadi sarjana.
4.     Diftongisasi adalah perubahan monoftong menjadi diftong. Contoh: anggota menjadi anggauta.
5.     Monoftongisasi   adalah   proses   perubahan   diftong   menjadi monoftong. Contoh: ramai, menjadi rame.
6.     Nasalisasi adalah persengauan atau proses memasukkan huruf nasal (n, m, ng, ny) pada suatu fonem. Contoh : me/m/ pukul menjadi memukul.

Membedakan dan Melafalkan Fonem Bahasa Indonesia

Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas vokal, konsonan, dan semi- vokal. Perbedaan antara vokal dan konsonan didasarkan pada ada atau tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara. Agar lebih jelas, Anda dapat melihat tabel berikut.

Vokal
Konsonan
Ø  Bunyi   yang   tidak   disertai hambatan   pada   alat   bicara. Hambatan   hanya   terdapat pada pita suara.
Ø  Tidak terdapat artikulasi
Ø  Semua vocal dihasilkan dengan bergetarnya      pita  suara.  Dengan     demikian, semua   vokal   adalah   bunyi suara.                                  
Ø  Bunyi yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara.
Ø  Terdapat artikulasi.
Ø  Konsonan   bersuara   adalah konsonan   yang   dihasilkan dengan      bergetarnya      pita suara.   Konsonan   tidak   bersuara   adalah   konsonan   yang dihasilkan tanpa bergetarnya pita suara.

a.   Vokal

Bunyi   vokal   dibedakan   berdasarkan   posisi   tinggi   rendahnya   lidah, bagian lidah yang bergerak, struktur, dan bentuk bibir. Dengan demikian, bunyi   vokal   tidak   dibedakan   berdasarkan   posisi   artikulatornya   karena pada bunyi vokal tidak terdapat artikulasi. Artikulator adalah bagian alat ucap yang dapat bergerak.
Klasifikasi vokal sebagai berikut :
Ä  Berdasarkan gerakan lidah ke depan dan belakang, vokal dibedakan:
1.      Vokal depan                    : /i/ dan /e/
2.     Vokal tengah                   : /a/ dan /ə/
3.     Vokal belakang                : /o/ dan /u/
Ä  Berdasarkan  tingggi rendahnya gerakan lidah, vokal dibedakan:
1.      Vokal tinggi                    : /i/ dan /u/
2.     Vokal madya                    : /e/, /ə/, dan /o/
3.     Vokal rendah                   : /a/
Ä  Menurut bundar tidaknya bentuk bibir, vokal dibedakan atas:
1.      Vokal bundar                   : /a/, /o/, /u/
2.     Vokal tak bundar             : /e/, /ə/, dan /i/
Ä  Menurut renggang tidaknya ruang antara lidah dengan langit-langit vokal dibedakan:
1.      Vokal sempit                   : /ə/, /i/, dan /u/
2.     Vokal lapang                    : /a/, /e/, /o/



b.   Konsonan

Konsonan dapat dibedakan menurut:
a.      Cara hambat (cara artikulasi) atau cara pengucapannya;
Klasifikasi konsonan berdasarkan cara pengucapan atau cara artikulasi seperti uraian berikut :
·      Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan   hambat   letup   ialah   konsonan   yang   terjadi   dengan hambatan   penuh   arus   udara.   Kemudian,   hambatan   itu   dilepaskan secara tiba-tiba. Berdasarkan tempat artikulasi, konsonan hambat letup dibedakan seperti berikut.
1)   Konsonan   hambat   letup   bilabial.   Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas. Bunyi yang dihasilkan [ p, b ].
2)    Konsonan hambat letup apiko-dental. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya gigi atas. Bunyi yang dihasilkan [ t, d ].
3)    Konsonan hambat letup apiko-palatal. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya ujung lidah dan artikulator pasifnya langit- langit keras (langit-langit atas). Bunyi yang dihasilkan [ t , d ]. [ t ] .   .     . ditulis th sedangkan [ d ] ditulis dh. .
4)    Konsonan hambat letup medio-palatal. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit- langit keras. Bunyi yang dihasilkan [c, j ].
5)    Konsonan   hambat   letup   dorso-velar.   Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit- langit   lunak   (langit-langit   bawah).   Bunyi   yang   dihasilkan [ k, g ].
6)    Konsonan hamzah. Konsonan ini terjadi dengan menekan rapat yang satu terhadap yang lain pada seluruh pita suara, langit-langit lunak beserta anak tekak di tekan ke atas sehingga arus udara terhambat beberapa saat. Bunyi yang dihasilkan [ ? ].  
·     Konsonan Nasal (Sengau)
Konsonan nasal (sengau) ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat rapat (menutup) jalan udara dari paru-paru melalui rongga hidung. Bersama dengan itu langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Berdasarkan tempat artikulasinya, konsonan nasal dibedakan sebagai berikut.
1)    Konsonan   nasal   bilabial.   Konsonan   ini   terjadi   jika   artikulator aktifnya   bibir   bawah   dan   artikulator   pasifnya   bibir   atas.   Nasal yang dihasilkan [m ].
2)    Konsonan nasal medio-palatal. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Nasal yang dihasilkan ialah [ ñ ].
3)    Konsonan nasal apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya   ujung   lidah   dan   artikulator   pasifnya   gusi.   Nasal   yang dihasilkan ialah [ n ].
4)    Konsonan nasal dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Nasal yang diberikan [ h ].
·     Konsonan Paduan
Konsonan paduan adalah konsonan hambat jenis khusus. Tempat artikulasinya ialah ujung lidah dan gusi belakang. Bunyi yang dihasilkan [ts , d5]. Bunyi [ ts ] ditulis ch sedangkan bunyi [d5] ditulis dg.
·     Konsonan Sampingan
Konsonan sampingan dibentuk dengan menutup arus udara di tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui kedua samping atau sebuah samping saja. Tempat artikulasinya ujung lidah dengan gusi. Bunyi yang dihasilkan [ I ].


·     Konsonan Geseran atau Frikatif
Konsonan geseran atau frikatif adalah konsonan yang dibentuk dengan menyempitkan jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru,   sehingga   jalan   udara   terhalang   dan   keluar   dengan   bergeser. Menurut artikulasinya, konsonan geseran dibedakan sebagai berikut.
1)    Konsonan geseran labio-dental. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya gigi atas. Bunyi yang dihasilkan [ f , v ].
2)    Konsonan   geseran   lamino-alveolar.   Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan  [ s , z ].
3)    Konsonan geseran dorso-velar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang dihasilkan     [ x ].
4)    Konsonan geseran laringal. Konsonan ini terjadi jika artikulatornya sepasang pita suara dan glotis dalam keadaan terbuka. Bunyi yang dihasilkan [ h ].
·     Konsonan Getar
Konsonan getar ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat. Menurut tempat artikulasinya konsonan getar dinamai konsonan getar apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya gusi. Bunyi yang dihasilkan [ r ].  
·     Semivokal
Bunyi   semivokal   termasuk   konsonan.   Hubungan   antarpeng- hambat dalam mengucapkan semivokal adalah renggang terbentang atau   renggang   lebar.   Berdasarkan   hambatannya,   ada   dua   jenis semivokal sebagai berikut.
1)    Semivokal bilabial, semivokal ini terjadi jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasif adalah bibir atas. Bunyi yang dihasilkan adalah bunyi [ w ].
2)    Semivokal   medio-palatal,   semivokal   ini   terjadi   jika   artikulator aktifnya tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan [ y].

b.    Tempat hambat (tempat artikulasi);
c.    Hubungan posisional antara penghambat-penghambat atau hubungan antara artikulator pasif; dan bergetar tidaknya pita suara.

Cara mengucapkan atau melafalkan bunyi dalam bahasa Indonesia dapat dituliskan dengan lambang fonetis.
Contoh
Huruf
Pelafalan
Contoh Kata
Lambang Fonetis
a
a
air
[a i r]
au
aw
kalau
[k a l aw]
ai
ay
intai
[i n t a y]
b
b
bukan
[b u k a n]
c
c
cara
[c a r a ]
d
d
damai
[d a m ai]
e
e
enak
[e n a ?]
e
ε
nenek
[n ε n ε?]
e
e
gedung
[g e d u h]
f
f
formal
[f o r m a l]
g
g
gundul
[g u n d u l]
h
h
harap
[h a r a p]
i
i
indah
[i n d a h]
i
I
kering
[k e r  I ŋ]
j
j
Jumlah
[j u m l a h]
k
k
Kasih
[k a s i h]
k
?
Rakyat
[r a? y a t]
l
l
lama
[l a m a]
m
m
mandi
[m a n d i]
n
n
nanas
[n a n a s]
ny
ñ
nyanyi
[ñ a ñ i ]
ng
ŋ
barang
[b a r a ŋ]
o
o
obat
[o b a t]
o
O
tolong
[t c l c h]
oi
oy
amboi
[a m b o y]
p
p
pilih
[p i l i h]
r
r
rantai
[i n t a y]
b
b
bukan
[b u k a n]
c
c
cara
[c a r a ]
d
d
damai
[d a m ai]
e
e
enak
[e n a ?]
e
ε
nenek
[n ε n ε?]
e
e
gedung
[g e d u h]
f
f
formal
[f o r m a l]
g
g
gundul
[g u n d u l]
h
h
harap
[h a r a p]
i
i
indah
[i n d a h]
i
I
kering
[k e r  I ŋ]
j
j
Jumlah
[j u m l a h]
k
k
Kasih
[k a s i h]
k
?
Rakyat
[r a? y a t]
l
l
lama
[l a m a]
m
m
mandi
[m a n d i]
n
n
nanas
[n a n a s]
ny
ñ
nyanyi
[ñ a ñ i ]
ng
ŋ
barang
[b a r a ŋ]
o
o
obat
[o b a t]
o
O
tolong
[t c l c h]
oi
oy
amboi
[a m b o y]
p
p
pilih
[p i l i h]
r
r
rantai
[r a n t ai]
s
s
suara
[s u a r a]
sy
š
syukur
[š u k u r]
t
t
taruh
[t a r u h]
u
u
ulir
[u l I r]
u
U
taruh
[t a r U h]
v
v
visa
[v i s a]
w
w
wanita
[w a n i t a]
kh
x
ikhwal
[i x w a l]
y
y
karya
[k a r y a]
z
z
ijazah
[i j a z a h]

3.     PERBEDAAN FONEM DAN GRAFEM (HURUF)

Grafem berbicara tentang huruf, sedangkan fonem berbicara tentang bunyi. Seringkali represenasi tertulis kedua konsep ini sama. Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai untuk duduk yang bernama "kursi", kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>, <u>, <r>, <s>, dan <i>, dan mengucapkannya pun /kursi/ - dari segi grafem ada alima satuan, dan dari segi fonem juga ada lima satuan. Akan tetapi, hubungan satu-lawan-satu seperti itu tidak selalu kita temukan. Kata "ladang" mempunyai enam grafem, yakni <l>, <a>, <d>, <a>, <n>, dan <g>. Dari segi bunyinya perkaatan yang sama itu hanya mempunyai lima fonem, yakni /l/, /a/, /d/, /a/, dan /ŋ/ karena grafem <n> dan <g> hanya mewakili satu fonem /ŋ/ saja.
                                                
Contoh perbedaan huruf (grafem) dan fonem:

Susunan Fonem
Jumlah Fonem
Susunan huruf
Jumlah huruf
Kata yang terbentuk
/adik/
4
adik
4
adik
/iŋat/
4
ingat
5
ingat
/ήaήi/
4
nyanyi
6
nyanyi
/pantay/
5
pantai
6
pantai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar